Badai Sitokin, Semacam Covid-19 Susulan?

October 7, 2021

 

Tidak hanya menyerang yang positif, ternyata yang sudah negatif covid-19 juga rentan terkena Badai Sitokin. Disebut-sebut sebagai penjemput maut Raditya Oloan dan menyebabkan Deddy Corbuzier hampir meninggal,

sebenarnya,

 

Apa itu Badai Sitokin?

Sitokin ialah sel-sel yang berperan sebagai koordinator respons imun tubuh terhadap infeksi virus danbakteri.

Sedangkan 'badai' sitokin ialah keluarnya sel sitokin yang terlalu banyak, sehingga memicu respons imuntubuh yang agresif.

Saking agresifnya, sistem imun tak hanya menyerang sel yang terinfeksi, tapi juga jaringan tubuh yang sehat. Keadaan ini berpotensi membuat kerusakan organ hingga kematian.

 

Begini Kronologinya,

Ketika seseorang terserang virus Covid-19, tubuh akan mengeluarkan sinyal inflamasi yang memicu peningkatan jumlah sel sitokin menuju bagian yang meradang atau terinfeksi. Pada kasus covid-19, umumnya, organ yang terinfeksi ialah paru-paru.

Seperti reaksi berantai, sel sitokin ini juga akan memicu sistem kekebalan tubuh untuk memberikan respons imun. Hanya saja, jika sel sitokin yang diproduksi terlalu banyak, maka juga akan berakselerasi dengan cepat.

Jika dibayangkan, saat ini paru-paru penderita sedang didatangi sel sitokin dan sel imun secara terus menerus dan bertubi-tubi. Seiring berjalannya waktu, sel-sel ini akan memenuhi paru-paru secara tidak terkontrol sehingga menyebabkan keadaan di bagian yang terinfeksi menjadi kacau balau, laksana badai.

Ditengah kekacauan ini, sel-sel tadi menjadi agresif dan menyerang jaringan tubuh, tidak hanya yang terinfeksi, namun juga yang sehat. Keberadaan badai sitokin inilah yang diduga bertanggung jawab atas rusaknya organ, terganggunya pernafasan, bahkan tingginya angka kematian covid-19 menurut para ahli. 

 

Tapi kalau sudah negatif Covid-19, Bagaimana Mungkin Terkena Badai Sitokin?

Meski sudah dinyatakan negatif dan tidak lagi menularkan virus, pasien penyintas Covid-19 belum dapat dinyatakan pulih sepenuhnya. Antibodi pasca seseorang terinfeksi masih ada dan dapat bertahan selama kurang lebih tiga bulan.

Untuk alasan yang sama inilah, para ahli menyarankan untuk melakukan vaksinasi setelah 3 bulan dinyatakan sembuh.

 

Lalu, apakah semua Penyintas Covid-19 Berisiko?

Pada dasarnya, ya. Namun, ada segelintir orang yang dinilai lebih berisiko dibandingkan dengan yang lain, yaitu,

penyintas yang memiliki komorbid.

Seseorang yang memiliki komorbid seperti diabetes, hipertensi, obesitas, atau yang memiliki kondisi peradangan kronik di dalam tubuh dan memiliki ketahanan lebih rendah untuk mengatasi disfungsi organ dinilai lebih berisiko mengalami Badai Sitokin, meskipun telah dinyatakan negatif Covid-19.

 

Apa Saja Gejalanya?

Meskipun gejala yang muncul cukup umum dan tidak serta merta mengarah pada Badai Sitokin semata, terdapat beberapa gejala khusus yang dapat dikenali dan diwaspadai jika tidak kunjung hilang atau membaik, yaitu:

-         Memiliki Riwayat terinfeksiCovid-19,

-         Sesak nafas,

-         Nyeri dada danberdebar,

-         Lemah sebelahatau tidak sadar,

-         Nyeri kepalahebat, dan

-         Kondisi gawat darurat lainnya.

 

Tetap waspada, Sahabat Prima.

Untuk mencegah hal-hal sedemikian terjadi pada Anda, atau jika Anda mengenali seseorang yang mengalami gejala-gejala tersebut,

 

Tetap Tenang dan Ambil Tindakan Preventif.

 

Segera kunjungi dokter terdekat bila seseorang memiliki keluhan mengkhawatirkan saat masih dinyatakan positif Covid-19 atau setelah negatif dari Covid-19.

Tetap Aman Bersama RS Prima.

Don't forget to share

Related Artikel

Ingin konsultasi dengan dokter Spesialis?

Check jadwal disini dan segera lakukan Appoinment
Jadwal Dokter